Puisi Archive

Show Posts in

Byar!

Langit malam ini, Tak terlihat apa-apa Selain abu-abu Temaram di atas bumi Rumah-rumah gemerlap cahaya Sewarna kelabu Ah, ku pejamkan mata Menatap diriku Jauh dalam kalbu Abu-abu Kemana penerang itu? Bisik angin, Buka telingamu Buka telingamu... Penglihatanmu usang Cahaya bukan dilihat Tapi harus kau dengar... Byar!

Berbarislah Sajak-sajakku

Berbarislah sajak-sajakku Sambut satu per satu sahabat-sahabatmu Saat menggeliat membuka mata Hadirkan secangkir puisi hangat di meja mereka Buat tersenyum Bawa tersungging Sampai si gadis tersipu Hingga si pemuda tertawan Lagi dan lagi Berbarislah sajak-sajakku Berparadelah bersama pagi Ingatkan sahabat-sahabatmu Karena sang Penyayanglah mereka bertemu matahari  

Embun

Embun Selamat pagi, Pagi Selamat merekah kembali kuncup-kuncup Embun itu... Bening.... Ambilkan gelas ambilkan bejana "Jangan!" Sergah embun "Aku bukan pelipur dahagamu, aku bukan isi gelap perutmu, Aku adalah penghibur, pencerah gelap matamu Aku... Titisan cahaya Bertahta di pucuk-pucuk rumput Menunggu hangat dekapan udara Tuk menyatu kembali

Sajak Penggugah Jiwa, Berguru kepada sunyi

Berguru kepada sunyi   Ketika cahaya mulai menepi Saat gelap mencengkram matahari Mengajak jiwa mencari arti Setiap langgam hidup di pagi, siang, petang hari Berbicara dari kedalaman hati Tentang hidup meresapi diri Membiarkan sepi membimbing Berbicara melalui nurani Apa makna hidup saat jantung terhenti? Hanya gagak yang

Puisi : Panas Tak Acuh-Mu

Puisi : Panas Tak Acuh-Mu Surabaya, 23 Agustus 2011 Panas tak acuh-Mu berasa terik Membungkam kran-kran hidupku Tak setetes air pun mengetuk bejana rindu Kau uapkan segala rasa terkapar menggelepar di udara Tak sedikit pun mampu mencuri lagi tatapan indah-Mu Saat mentari tenggelam di akar-akar rumput terbakar