Nonton Wayang, Ingat Perselisihan Para (santri) Wali

Saiful Arifin (Surabaya, 2011)

saiful arifin | Artikel Sains, Artikel Agama, Artikel SeniDengan kopyah miring sehabis sholat tarawih. Seperti biasa, Nenet, pelanggan tetap tayangan bioskop di salah satu TV Swasta ini begadang sampai malam. Di sela sponsor, dengan cekatan tangannya memencat-mencet remote TV. Pindah channel satu ke lainnya. Ada berita tentang buronan korupsi, promo kartu perdana, dan.. loh pagelaran wayang kulit. Tangannya berhenti memainkan remote. Di tonton juga pagelaran wayang dengan Dalang Ki Anom Suroto itu. 5 menit tidak terasa, 30 menit pun terlalui. Dasar si Nenet, paham atau tidak isi pagelaran wayang tersebut, matanya saja yang kelap-kelop hehe

Tinggalkan saja Nenet yang asyik nonton wayang. Apakah Anda pernah menonton wayang? Meski tidak sampai tutuk, sebenarnya ada sejarah di balik pagelaran wayang. Jadi teringat kisah perselisihan para wali.

Tidak dalam arti yang sebenarnya, perselisihan yang saya maksud adalah perbedaan pendapat para pengikut para wali setelah masjid Demak berdiri. Para santri Sunan Giri menginginkan agar pembukaan masjid Demak dilaksanakan dengan melakukan jama’ah sholat Jum’at. Sementara para santri Sunan Kalijaga menginginkan agar pembukaan masjid Demak disemarakkan dengan pagelaran wayang kulit.

Semula musyawarah buntu, sampai akhirnya Sunan Kalijaga menangkap alasan ketidaksetujuan Sunan Giri terhadap pagelaran wayang. Sunan Giri keberatan dengan bentuk wayang yang menyerupai manusia, karena hal ini dilarang oleh Rasulullah. Sementara disisi lain, para pengikut sunan Kalijaga ingin agar keberadaan masjid Demak diketahui oleh seluruh warga Demak bintoro dengan mengadakan pagelaran wayang.

Akhirnya disepakatilah bahwa pembukaan Masjid Demak Bintoro dilakukan dengan jamaah sholat Jumat pada siang hari dan pagelaran wayang pada malam hari, dengan syarat dari Sunan Giri bahwa wayang yang ada harus dirubah bentuknya dan sebagai dalang adalah Sunan Kalijaga sendiri. Keputusan bijak ini membuat kedua pengikut para sunan lega. Sunan Kalijaga pun akhirnya merubah semua bentuk wayang. Perubahan yang menarik adalah pada Wayang Batara Guru dirubah Sunan Kalijaga menjadi Sang Hyang Girinata sebagai bentuk penghormatan beliau kepada Sunan Giri.

Jadi, pelajaran apa yang bisa Anda ambil dari kisah ini? Silakan Anda cari sendiri, saya mau menengok Nenet. Duh ternyata ketiduran di depan televisi hehe

>> Sisi Lain Sejarah Wali Songo, Sunan Ampel Dari China


Saiful Arifin :: Story Of Everything | Artikel Sains, Artikel Agama, dan Artikel Seni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *