Di Bumi Yang Bulat, Tidak Ada Yang Terbalik! : Pembelaan Pemikiran Kontroversial Prof. Santos

Saiful Arifin (Surabaya, 2011)

saiful arifin | Artikel Sains, Artikel Agama, Artikel SeniSebelum membaca coretan saya, terlebih dahulu silakan membaca artikel luar biasa seorang pemikir dari ITB di blog berikut disini.

Saya sangat terkesan dengan pemaparan artikel ini. Namun, bagi saya buku Profesor Santos tetap luar biasa. Arkeologi modern sekalipun sebenarnya tidak bisa menjawab banyak fenomena peradaban kuno bangsa sebelum bangsa yang ‘mengaku’ modern ini seperti fenomena di balik peninggalan piramida Mesir, peradaban kuno Amerika dan sebagainya.

Sejalan dengan ‘kontroversi’ pemikiran Prof. Santos, bahkan Borobudur pun telah di putar balikkan oleh pemikiran ‘revolusioner’ KH. Fahmi Basya atas penelusurannya tentang negeri Saba’. Begitu juga Erich Von Daniken (meski saya tidak semua setuju dengan pemikirannya) telah membuat tercengang arkeologi modern, karena tidak bisa mengungkapkan keganjilan demi keganjilan peninggalan bangsa-bangsa ‘kuno’ ini.

Ilmu pengetahuan ‘modern’ yang lahir tidak lebih dari 2 abad lalu, jauh sekali dari umur bumi dan manusia. Sejarah manusia yang tidak tercatat telah jutaan tahun menyimpan mesteri yang dipenuhi teka-teki. Bukti-bukti peradaban yang tertinggal, hanya sebatas puncak gunung es. Penemuan fosil yang ‘dianggap’ sebagai bukti keberadaan manusia purba dengan peradaban ‘tidak maju’ toh telah dibantah habis oleh Harun Yahya, termasuk juga Dr. Naik dari North Amerika.

Menurut saya pertanyaan retoris Paul Davis bahwa “Apakah kita akan¬† mengetahui sesuatu tanpa mengetahui segala sesuatu?” sangat memberikan gambaran betapa relatifnya sebuah kebenaran, termasuk ilmu pengetahuan yang kita yakini dan kita bela habis-habisan. Toh betapa kukuhnya Ptolemeus selama hampir 14 abad akhirnya tumbang oleh Copernicus.

Jika hari ini ada yang bilang bahwa ada orang dibacok tidak mempan, pasti kita akan berkata “tidak masuk akal”. Toh saya sendiri telah melihat orang-orang ini, meskipun saya saat itu bilang tidak masuk akal, tetapi kenyataan berbicara¬† lain. Inilah sesuatu yang harus dimasuk-masukkan akal atau lebih dari sekedar itu, inilah sesuatu yang harus dipikir tidak dengan akal karena mungkin akal-akalan kita saja dengan berkata sesuatu itu tidak masuk akal.

Dengan membaca buku Paradigma Holistik kita akan bisa lebih memahami secara menyeluruh kemana seharusnya kita berfikir di zaman ini. Pemikiran-pemikiran kontroversi dan revolusioner Prof. Santos, KH. Fahmi Basya sampai Erich Von Daniken patut diapresiasi sebagai tawaran memahami realitas. Toh ‘kebingungan’ ilmuwan modern dalam memahami perilaku atom seharusnya memberi ruang yang lebih luas kepada seluruh pemikir untuk memberi angin segar atas pengetahuan¬† ala Newtonian dan Descartesian ini. Bukanlah di Bumi yang bulat, tidak ada yang terbalik?

Selamat jalan Profesor Santos, meskipun profesor telah tiada, tapi pemikiranmu akan tetap ada (disarikan dari V For Vandetta)

Terimakasih artikel yang luar biasa :-) Semoga Tuhan meneteskan setitik pemahaman kepada kita semua atas fenomena ini dengan terus menggali dan belajar, amin.

>> Nonton Wayang, Ingat Perselisihan Para (santri) Wali


Saiful Arifin :: Story Of Everything | Artikel Sains, Artikel Agama, dan Artikel Seni

Comments (1)
  1. Pamudya 25/07/2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *